TL;DR Panduan ini untuk brand yang ingin men-deploy aplikasi B2B bagi distributor, dealer, dan retailer mereka. Cakupannya meliputi dua pilar: eksekusi operasional (katalog, order, syarat kredit, skema, multi-interface) dan customer engagement (loyalty, nudge upsell, gamification, konten video). Berikan komisi kepada sales rep atas order yang masuk lewat portal juga, atau mereka akan menyabotase adopsinya. Retailer & Influencer App dari BeatRoute menyatukan order retailer, secondary data distributor, dan loyalty influencer dalam satu platform.

Brand consumer goods menjual ke distributor, dealer, wholesaler, dan institusi yang kemudian menyalurkan produk ke rantai berikutnya. Masalahnya: sales rep menjaga ketat wilayah penerimaan order mereka, distributor tidak bisa melihat kredit atau skema secara real-time, dan repeat order pun macet. Sebuah aplikasi B2B yang dirancang khusus memperbaiki eksekusi operasional sekaligus engagement. Artikel ini mengulas apa saja yang harus dilakukan aplikasi tersebut dan mengapa rep perlu diberi komisi atas order portal untuk mencegah sabotase.

BeatRoute adalah satu-satunya platform eB2B yang menyatukan order retailer, secondary data distributor, dan loyalty influencer dalam satu aplikasi.

Pada bisnis seperti building materials, auto aftermarket, dan consumer durables, perusahaan tidak terlalu peduli kepada siapa partner B2B mereka menjual. Tujuan utamanya adalah menjaga hubungan B2B yang engaging untuk penjualan primer mereka. Sebuah aplikasi B2B memfasilitasi hubungan eCommerce ini dengan seluruh daftar pelanggan, mulai dari konversi lead hingga repeat order.

Agar punya hubungan kerja yang baik dengan pelanggan B2B, brand perlu menyelesaikan dua bagian: eksekusi operasional dan customer engagement.

Eksekusi operasional

Penyiapan katalog dan eksekusi order

Brand perlu menyiapkan katalognya agar pelanggan bisa melakukan order self-service dengan visibilitas penuh ke tim sales, partner distributor, dan sales manager. Aplikasi B2B memberikan closed-loop action pada setiap order yang dibuat pelanggan, serupa dengan yang terjadi saat tim sales membuat order lewat aplikasi field sales.

Visibilitas status order

Dalam use case B2B, setelah order diterima, pelanggan perlu tahu apakah order disetujui berdasarkan ketersediaan inventory. Selain status persetujuan order, pelanggan perlu mengetahui status order yang sedang diproses agar bisa merencanakan komitmen mereka sendiri ke pihak berikutnya.

Penyelarasan payment terms

Pelanggan B2B umumnya memiliki credit line. Setiap perusahaan punya pendekatan berbeda dalam menagih pembayaran, memberikan kredit tambahan, atau memblokir akun ketika pembayaran lewat jatuh tempo. Perusahaan membutuhkan aplikasi B2B untuk menyelaraskan payment terms, pengajuan kredit, dan kebutuhan inventory dengan titik supply.

Visibilitas ke tim sales

Setiap order yang dibuat pelanggan harus terlihat oleh tim sales yang ditugaskan. Brand perlu memberikan komisi kepada sales rep mereka atas semua order dari retailer masing-masing, termasuk yang masuk lewat portal. Jika brand tidak melakukannya, sales rep bukan hanya kehilangan motivasi untuk mempromosikan portal, tetapi bisa secara aktif menghambat penggunaannya dengan meminta pelanggan untuk order lewat mereka.

Interface berbeda untuk persona pelanggan yang berbeda

Ada persona pelanggan yang berbeda-beda tergantung skala operasi dan jumlah orang yang menanganinya. Untuk mengakomodasi kasus-kasus itu, brand perlu menyediakan opsi interface yang berbeda seperti WhatsApp, app, dan web dengan interoperabilitas penuh di antara semuanya. Order yang dimulai di WhatsApp harus muncul di web dan di app rep.

Konfigurasi skema primer

Brand perlu membuat berbagai jenis skema dan menargetkannya berdasarkan subtipe pelanggan, channel, geografi, atau SKU. Aplikasi B2B harus memastikan kesadaran akan skema lewat nudge, auto-prompt skema terhadap kategori produk yang relevan, dan penerapannya pada order yang sedang dibuat. Penyiapan skema sebaiknya berupa lingkungan self-serve berkonfigurasi tinggi yang mengakomodasi semua jenis skema yang relevan bagi bisnis.

Customer engagement

Sebagian besar platform B2B hanya berfokus pada eksekusi operasional, yang membuat adopsi dan engagement untuk repeat order menjadi tantangan tersendiri. Sebuah platform perlu dibangun di atas filosofi pertumbuhan bisnis bersama. Inilah elemen-elemen yang menggerakkannya:

Engagement retailer lewat loyalty terintegrasi

Setiap program loyalty yang dijalankan perlu transparan dalam hal pencapaian dan reward. Aplikasi B2B memfasilitasi engagement berkelanjutan melalui poin loyalty yang terlihat jelas dan interface redemption terintegrasi yang bisa dikonfigurasi dan disesuaikan oleh brand.

Tuas untuk mendorong bisnis inkremental

Nudge yang mendorong bisnis inkremental bagi partner: inventory yang akan habis, pola pembelian toko di sekitar, SKU dengan skema aktif, dan SKU yang bisa ditambahkan agar lebih memenuhi syarat skema saat order dibuat. Nudge ini mendorong order inkremental bagi brand sekaligus bisnis inkremental bagi pelanggan.

Engagement ber-gamification

Engagement ber-gamification mendorong aksi seperti mengisi kampanye, mencatat feedback atau survei pelanggan, dan mengunggah foto display. Pelanggan mendapat poin saat menyelesaikan aktivitas penting, sehingga aplikasi menjadi habit-forming alih-alih semata-mata transaksional.

Konten berbasis video

Konten video seputar brand, peluncuran produk baru, dan informasi tentang peluncuran program baru bisa didorong sebagai widget in-app pada berbagai tahap dalam perjalanan pelanggan.

Tuas engagement lainnya

Setelah adopsi awal, platform bisa menghadirkan lebih banyak tuas engagement pada saat pembuatan order dan secara tepat waktu menarik kembali pelanggan dorman ke dalam aktivitas.

Bagaimana BeatRoute memungkinkan eCommerce B2B?

Retailer & Influencer App dari BeatRoute memfasilitasi eCommerce B2B melalui interface yang terhubung dengan WhatsApp, Viber, dan Messenger. Dari sudut pandang filosofi produk, BeatRoute membangun engagement bernilai tambah antara brand dan pelanggan ritelnya, bukan sekadar engagement transaksional. Aplikasi ini dibangun untuk berfungsi di atas perangkat digital tim lapangan yang sudah di-deploy, sebagai komponen yang modular dan scalable.

Pesan demo gratis untuk melihat bagaimana Anda bisa menjalankan eCommerce B2B dengan dealer dan retailer Anda menggunakan BeatRoute.

Pertanyaan yang sering diajukan

Mengapa rollout portal B2B gagal ketika sales rep tidak diberi komisi atas order tersebut?

Rep memandang portal sebagai ancaman terhadap komisi mereka. Mereka mengabaikannya atau secara aktif menyuruh pelanggan untuk order lewat mereka. Solusinya sederhana: berikan komisi kepada rep atas setiap order di territory mereka, apa pun channel-nya. Maka mereka akan mempromosikan portal karena hal itu menghemat waktu penerimaan order sekaligus mempertahankan payout mereka.

Fitur operasional apa saja yang harus dicakup aplikasi B2B?

Penyiapan katalog dengan harga live, status penerimaan order yang terkait inventory, visibilitas pemrosesan order, penegakan credit line dan payment terms, auto-apply skema di cart, serta visibilitas order penuh ke sales rep yang ditugaskan. Tanpa semua itu, aplikasi justru menciptakan lebih banyak kebingungan ketimbang menghilangkannya.

Mengapa menawarkan beragam interface seperti WhatsApp, app, dan web?

Pelanggan B2B berkisar dari pemilik kirana kecil yang hidup di WhatsApp hingga pembeli modern-trade yang lebih suka portal desktop. Satu interface saja akan menyingkirkan separuh basis pelanggan Anda. Berikan setiap persona channel pilihan mereka dengan data yang sama di belakangnya, sehingga order yang dimulai di WhatsApp muncul di web dan di app rep.

Tuas engagement apa yang mendorong repeat order di luar transaksi?

Loyalty transparan dengan poin real-time dan redemption terintegrasi, nudge order inkremental yang menandai skema atau inventory mendekati kedaluwarsa, form kampanye ber-gamification, dan konten video tentang peluncuran baru. Semua itu mengubah portal order biasa menjadi channel relasi yang menarik kembali akun dorman.