TL;DR Panduan ini ditujukan untuk brand building materials, auto aftermarket, dan consumer yang menjalankan program manajemen influencer lewat tukang cat, mekanik, kontraktor, dan trade influencer sejenis. Panduan ini membahas mengapa sebagian besar program influencer brand mandek pada urusan reward dan jangkauan, serta cara membangun komunitas influencer yang loyal melalui engagement digital lewat WhatsApp, loyalty yang transparan, onboarding berpasangan, dan kolaborasi tim lapangan melalui Retailer & Influencer App dari BeatRoute.

Ketika Anda mengecat ulang sebuah ruangan atau memperbaiki mobil, biasanya tukang cat atau mekanik yang memberi tahu Anda brand mana yang harus dibeli. Orang itulah influencer-nya, dan bagi brand cat, semen, suku cadang otomotif, dan interior, channel manajemen influencer menentukan lebih banyak penjualan dibanding iklan ke konsumen akhir. Artikel ini memaparkan mengapa sebagian besar program influencer brand mandek pada urusan reward dan jangkauan, serta cara membangun komunitas influencer yang loyal melalui engagement digital, loyalty yang transparan, dan kolaborasi tim lapangan.

BeatRoute membantu brand menjalankan manajemen influencer melalui Retailer & Influencer App, memadukan order capture dengan loyalty dan team selling.

Masalah dalam mengelola channel influencer

Tantangan engagement influencer bagi brand
  1. Peluang engagement yang terlewat: Koneksi dengan influencer yang hanya mengandalkan kunjungan fisik meninggalkan banyak celah. Engagement yang tinggi memperkuat koneksi brand dan arus informasi yang berkelanjutan soal produk dan loyalty program. Brand bisa menutup celah ini dengan menjalin engagement bersama influencer lewat mode digital, berbagi video produk, success story, dan materi training.
  2. Respons lambat terhadap peluncuran baru: Sebagian besar peluncuran baru direspons rendah di jaringan distribusi. Jika channel influencer dipakai untuk menyalurkan pengetahuan produk, USP, dan use case kepada konsumen, brand punya peluang lebih besar membangun antusiasme awal sebelum produk masuk ke rantai pasok.
  3. Ketidakpuasan terhadap program pengiriman hadiah: Adopsi reward program yang rendah berakar dari pengalaman yang terputus, mulai dari onboarding hingga pengaitan influencer dengan retailer atau dealer tertentu. Masih ada ambiguitas dalam pelacakan tertiary offtake, penukaran loyalty masih butuh kupon fisik, dan pengiriman hadiah fisik tidak bisa diandalkan.
  4. Demand generation yang belum optimal: Karena tim penjualan tidak bisa menjalin engagement dengan influencer secara tertarget, brand melihat demand generation yang belum optimal dari channel ini. Perusahaan tidak bisa mendorong brand stickiness di kalangan influencer tanpa mengarahkan tim penjualan lapangannya ke sana.

Bagaimana BeatRoute menyelesaikan engagement influencer?

Alur kerja engagement influencer BeatRoute
  1. Onboarding influencer berpasangan: Tim penjualan mengelola tahapan onboarding influencer, membuat profil dengan field yang bisa dikonfigurasi, dan melacak kelengkapan profil. Influencer dapat dikaitkan dengan satu atau beberapa outlet untuk melacak demand yang mereka hasilkan. Para influencer ini dimasukkan ke dalam beat plan dan jadwal kunjungan tim penjualan.
  2. Engagement digital dengan influencer: Brand memastikan komunikasi yang terstandar dan berkelanjutan dengan membagikan video produk, video training, dan konten success story di interface WhatsApp yang sudah familiar. Hal ini memastikan engagement yang berkualitas, bukan sekadar berfokus pada benefit transaksional.
  3. Mengaitkan penjualan dengan influencer dan memastikan keasliannya: Untuk project sales, alur kerja BeatRoute menambahkan influencer yang menjadi sumber lead. Untuk retail sales, scan kupon tertanam dalam Retailer & Influencer App yang menggunakan WhatsApp bot sebagai user interface, memberi influencer visibilitas penuh atas total poin yang terkumpul dan performa mereka. Transparansi ini memastikan keaslian reward loyalty yang diteruskan.
  4. Perencanaan community meet: Tim penjualan merencanakan community meet dan mendapatkan persetujuan budget melalui approval workflow. Alur kerja ini memberi brand visibilitas atas eksekusi acara, feedback influencer, kehadiran, dan detail lain yang ditangkap melalui form yang bisa dikonfigurasi. Ini menyediakan pandangan terintegrasi atas riwayat engagement fisik dan digital di level masing-masing influencer.
  5. Kalkulasi reward point di scheme engine: BeatRoute dilengkapi scheme engine yang serbaguna untuk menyusun aturan kompleks dengan mudah berdasarkan value dan volume. Scheme engine ini mengakomodasi skema in-bill maupun cumulative purchase. Aturan reward memberi insentif pada performa penjualan sekaligus engagement brand.
  6. Loyalty program terintegrasi: BeatRoute terintegrasi dengan katalog global untuk penukaran e-voucher, memberi pengalaman closed-loop yang utuh bagi influencer. Mengirim hadiah fisik lewat pihak ketiga menimbulkan masalah pada kualitas, waktu pengiriman, dan retur. Lebih baik serahkan pengalaman itu kepada pemain e-commerce seperti Amazon dan Flipkart yang memberikan customer experience dalam skala besar.

BeatRoute vs aplikasi influencer mandiri

Opsi lain yang dipertimbangkan perusahaan adalah membangun aplikasi influencer sendiri. Berikut perbandingannya dengan pendekatan BeatRoute:

  1. Engagement: Aplikasi khusus brand kerap di-uninstall dan punya open rate komunikasi yang rendah. BeatRoute memiliki open rate mendekati 100% pada pesan nudge karena menggunakan WhatsApp bot sebagai interface utama. Tidak ada lagi masalah level adopsi yang naik-turun.
  2. Pengiriman: Tidak ada masalah pengalaman penukaran berkat pengiriman e-commerce dan transfer dana langsung, sehingga membangun kepercayaan dan kredibilitas terhadap brand.
  3. Strategi reward point: Scheme engine terintegrasi menyediakan aturan benefit yang cepat diubah dan penargetan berdasarkan segmentasi pelanggan atau influencer.
  4. Total biaya: Pengembangan in-house umumnya menelan biaya sekitar 50% lebih besar dibanding alur kerja plug-and-play yang siap pakai dan dirancang untuk menyelesaikan masalah inti yang dihadapi rantai nilai.

Opsi deployment

  1. Sebagai komponen mandiri: Deploy channel WhatsApp BeatRoute pada influencer atau retailer sebagai komponen mandiri dengan mengintegrasikannya ke software data management yang sudah Anda miliki. BeatRoute Matrix memungkinkan 300+ koneksi sistem enterprise sebagai middleware integrasi low-code.
  2. Bersama aplikasi SFA BeatRoute: Jika Anda mencari solusi lengkap untuk field force atau sudah menggunakan solusi BeatRoute lainnya, ini bisa di-deploy sebagai lapisan solusi tambahan.
  3. Bersama aplikasi loyalty yang sudah ada: Jika Anda sudah menggunakan aplikasi in-house atau pihak ketiga untuk mengelola loyalty program, channel WhatsApp BeatRoute bisa di-deploy pada sekelompok pelanggan terpilih untuk menjalankan kampanye spesifik berdampingan dengan aplikasi loyalty yang ada.

Book a free demo untuk melihat manajemen influencer bekerja di dunia nyata di seluruh tim lapangan Anda.

Pertanyaan yang sering diajukan

Mengapa aplikasi influencer khusus brand gagal?

Tukang cat, tukang batu, dan mekanik cepat meng-uninstall aplikasi satu-fungsi karena mereka jarang membukanya. Pesan push tidak terbaca dan penukaran macet. Menjalankan engagement lewat WhatsApp justru menempatkan brand di tempat yang sudah dipakai influencer, sehingga open rate nudge mendekati 100% dan retensi tidak lagi jadi perjuangan.

Bagaimana sebaiknya brand menangani penukaran reward untuk influencer?

Lewatkan program hadiah fisik. Masalah kualitas, keterlambatan pengiriman, dan retur cepat mengikis kepercayaan. Integrasikan dengan katalog e-voucher mapan seperti Amazon atau Flipkart agar influencer menukar poin dengan produk yang benar-benar mereka inginkan dengan pengiriman yang andal. Anda fokus pada penjualan; pemain e-commerce yang menangani fulfilment.

Bagaimana keaslian penjualan yang digerakkan influencer diverifikasi?

Pasangkan setiap influencer dengan satu atau beberapa outlet ritel saat onboarding. Untuk project sales, tandai influencer yang menjadi sumber lead. Untuk retail sales, gunakan scan kupon yang tertanam dalam WhatsApp bot sehingga setiap pembelian yang terlacak menghasilkan poin yang terkait dengan influencer tertentu. Jejaknya tetap bisa diaudit dari ujung ke ujung.

Bagaimana BeatRoute dibanding membangun program influencer in-house?

Pengembangan in-house umumnya menelan biaya sekitar 50% lebih besar dibanding alur kerja siap pakai yang dibangun untuk engagement influencer. Anda juga mewarisi maintenance berkelanjutan, pembangunan ulang scheme engine, dan masalah adopsi yang menyertai aplikasi khusus brand. Platform plug-and-play yang fokus pada masalah lebih cepat dirilis dan lebih gesit beradaptasi dengan perubahan aturan.

Bisakah BeatRoute berjalan berdampingan dengan aplikasi loyalty yang sudah ada?

Bisa. Deploy channel WhatsApp BeatRoute pada sebagian influencer untuk kampanye tertarget sementara aplikasi loyalty Anda yang ada tetap berjalan. Atau gunakan sebagai komponen mandiri yang terintegrasi dengan stack data management Anda. BeatRoute Matrix memungkinkan 300+ koneksi sistem enterprise sebagai middleware integrasi low-code.