TeleOrder AI Agent BeatRoute Menerima Pesanan Langsung dari Peritel

Route to market FMCG: panduan untuk pemimpin sales dan distribusi

Route to market (RTM) FMCG adalah jalur produk Anda dari pabrik ke rak, beserta rencana tentang siapa yang menjual, menyimpan stok, dan mengirimkannya.

Nikhil ChaudharyOleh , VP Marketing
Route to market FMCG yang mencakup distributor, retailer general trade dan modern trade, serta tim sales lapangan.

Apa itu route to market di FMCG?

Route to market di FMCG adalah cara brand menempatkan produknya di setiap outlet tempat konsumen membeli, dengan biaya yang masih menyisakan laba. Ini adalah ujung penjualan dan distribusi dari rantai pasok. Strategi RTM Anda adalah rencana untuk enam keputusan: saluran, model distribusi, cakupan, tim lapangan, syarat dagang, dan data.

Jalur pabrik ke rak di FMCG: brand, distributor, grosir, dan retailer, dengan margin yang diambil di setiap tahap.

Jalur paling panjang ada di general trade (traditional trade): warung, toko kelontong, dan toko independen kecil yang di banyak pasar masih menjual sebagian besar barang konsumsi. Sebungkus biskuit bisa melewati distributor utama, distributor lokal, dan grosir sebelum tiba di warung. Setiap tahap mengambil margin, menyimpan stok, dan membuat keputusan yang tidak terlihat oleh brand tanpa data bersama. Untuk gagasan yang sama di luar barang konsumsi, baca panduan strategi route to market kami.

Enam keputusan dalam strategi route to market FMCG

  • Bauran saluran yang membagi penjualan ke general trade, modern trade, e-commerce, dan out of home, di samping lorong supermarket.
    Saluran: melalui jenis outlet apa Anda menjual.
  • Data outlet yang menunjukkan siapa yang melayani toko: tim sendiri, distributor, atau grosir, dengan distributor terpilih.
    Model distribusi: siapa yang melayani tiap outlet (tim Anda, distributor, atau grosir di bawahnya).
  • Peta teritori dengan outlet bertanda menurut tingkat kunjungan: mingguan, dua mingguan, atau memesan lewat aplikasi di antara kunjungan.
    Cakupan: outlet mana yang dikunjungi, dan seberapa sering.
  • Layar tim lapangan yang meranking tiga sales menurut order berulang, ukuran yang menjadi dasar insentif mereka.
    Tim lapangan: berapa banyak sales, dan hasil apa yang menjadi dasar insentif mereka.
  • Syarat dagang distributor: margin, hari kredit, dan waktu pembayaran klaim, dengan satu skema promosi dan satu klaim yang sudah dibayar.
    Syarat dagang: margin, kredit, skema, dan klaim.
  • Penjualan harian di bawah distributor, diperbarui langsung saat distributor menagih outlet-nya.
    Data: apa yang terlihat dari penjualan di bawah distributor, dan secepat apa.

Saluran yang harus dilayani oleh route to market FMCG

Kebanyakan brand menjual lewat beberapa saluran distribusi sekaligus, dan tiap saluran butuh rencana sendiri.

SaluranBiasanya dilayani lewatYang memenangkannya
General trade (traditional trade): warung, toko kelontong, kios, dan grosir yang memasok merekaSalesman distributor pada beat tetap, dengan sales brand yang mengarahkan orderCakupan luas, range yang pas untuk tiap outlet, kredit yang wajar, kunjungan yang rutin
Modern trade: jaringan minimarket dan supermarketTim key account, dengan merchandiser di tokoKetersediaan di rak, kepatuhan planogram, promosi yang disepakati dengan jaringan ritel
E-commerce dan quick commerce: marketplace, aplikasi pengiriman cepat, dan aplikasi pemesanan B2BLangsung ke gudang platform atau lewat distributorStok di dark store yang tepat, dan harga yang tidak menjatuhkan harga distributor Anda
Out of home: hotel, restoran, kafe, dan kateringDistributor khusus atau grosir food serviceUkuran kemasan, layanan andal, penjualan sesuai menu

General trade dan modern trade tidak pernah berbagi satu beat. Warung kecil butuh kunjungan singkat dan saran order. Toko jaringan butuh pengecekan rak dan merchandiser. Baca lebih lanjut tentang general trade vs modern trade, tentang menjalankan route to market multisaluran, dan tentang penjualan HoReCa.

Langsung, lewat distributor, atau hybrid: model mana yang cocok?

Model yang Anda pilih menentukan sebagian besar cost to serve. Putuskan antara distribusi langsung dan tidak langsung secara terpisah untuk tiap saluran dan tiap wilayah.

ModelCara kerjaCocok untukYang perlu diwaspadai
Langsung ke outletTim Anda sendiri menjual dan mengirimKota padat, key account, produk bernilai tinggi atau masa simpan pendekBiaya tetap tinggi; sulit dibenarkan untuk outlet kecil yang berjauhan
Lewat distributor (tidak langsung)Distributor membeli dari Anda, menyimpan stok, menjalankan logistik pengiriman, dan memberi kreditCakupan general trade yang luas, kota kecil dan pedesaanAnda kehilangan pandangan atas penjualan di bawah distributor kecuali memakai sistem yang sama
HybridLangsung untuk jaringan ritel dan akun besar; distributor untuk general tradeKebanyakan brand dengan campuran saluranRebutan harga dan outlet kecuali Anda menetapkan siapa melayani siapa
Sales kanvas atau taking orderMenjual dan mengirim dalam satu kunjungan, atau mencatat order lalu mengirim kemudianSales kanvas untuk outlet kecil bayar tunai; taking order untuk order lebih besar dan range lebih luasSales kanvas terbatas muatan; taking order butuh pengiriman andal. Lihat software van sales

Saat Anda mencampur model RTM ini, perhatikan batasnya. Kesalahan yang umum: melayani wilayah yang jauh secara langsung karena ada satu pelanggan besar di sana. Akibatnya tim Anda sendiri melayani semua outlet kecil di sekitarnya, dengan biaya langsung.

Segmentasi outlet, cakupan, dan cost to serve

Cakupan adalah salah satu biaya terbesar dalam route to market, dan yang paling mudah salah alokasi. Perbaikannya dimulai dari segmentasi outlet: kunjungi toko bervolume tinggi tiap minggu dan toko stabil dua minggu sekali. Biarkan toko kecil atau baru memesan lewat telepon atau aplikasi di antara kunjungan.

Peta outlet menurut tingkat kunjungan, dengan satu toko yang cost to serve-nya melampaui margin ditandai untuk dipindah ke pemesanan lewat aplikasi.

Lalu ukur tiap outlet dengan cost to serve: waktu sales, pengiriman, dan kredit yang Anda berikan, dibandingkan dengan pembelian outlet sebulan pada margin Anda. Jika biaya melampaui margin selama dua atau tiga bulan, turunkan outlet satu tingkat: kunjungan lebih jarang, rute sales kanvas, pemesanan lewat aplikasi, atau lewat grosir. Panduan perencanaan beat kami menjelaskan cara menyusun beat untuk tiap tingkat.

Perfetti Van Melle Indonesia melipatgandakan cakupan outlet jadi tiga kali dengan route optimization dan sales force automation BeatRoute. Baca studi kasus Perfetti Van Melle Indonesia.

Cara menyusun atau membenahi strategi RTM FMCG dalam lima langkah

Prosesnya sama, baik Anda masuk ke pasar baru, meluncurkan kategori baru, maupun membenahi route to market FMCG yang mandek:

  1. Margin per wilayah, dengan satu wilayah merugi, outlet yang biayanya lebih besar dari hasilnya, dan kota yang belum menyetok produk Anda.
    1. Petakan dari mana volume dan margin berasal. Pecah penjualan menurut saluran, wilayah, distributor, dan jenis outlet. Cari outlet yang biayanya lebih besar dari hasilnya, dan wilayah yang belum menyetok produk Anda. Di pasar baru, mulailah dengan penilaian pasar: sensus outlet dan daftar singkat distributor.
  2. Tingkatan outlet, masing-masing dengan frekuensi kunjungan dan model: mingguan oleh tim sendiri, dua mingguan oleh distributor, atau lewat sales kanvas.
    2. Tetapkan cakupan dan model untuk tiap saluran dan wilayah. Kelompokkan outlet ke dalam tingkatan, pilih langsung, distributor, atau sales kanvas untuk tiap tingkat, dan tuliskan siapa yang melayani agar antarsaluran tidak berebut outlet.
  3. Kartu skor distributor yang mencakup outlet terjangkau, armada, dan berbagi data, dengan imbal hasil dari lini Anda setelah biaya.
    3. Pilih distributor dan tetapkan syaratnya. Dasarkan pemilihan distributor pada jangkauan, kekuatan kas, armada, dan kesediaan berbagi data. Lalu periksa berapa yang didapat tiap distributor dari lini Anda setelah biaya pengiriman dan kredit. Distributor tanpa imbal hasil yang wajar akan menahan stok.
  4. Beat harian seorang sales dengan order berulang dan lini per kunjungan, dua ukuran yang menjadi dasar insentif tim lapangan.
    4. Rancang tim lapangan dan beat. Hitung berapa sales yang dibutuhkan tiap wilayah. Beri insentif untuk order berulang dan jumlah lini per kunjungan.
  5. Peta dengan satu teritori uji coba dilingkari, dan kemajuan sepanjang satu siklus pemesanan penuh sebelum perluasan.
    5. Uji coba dulu sebelum perluasan. Jalankan model baru di satu teritori selama satu siklus pemesanan penuh, lalu perluas apa yang berhasil.

Di mana kebanyakan model route to market FMCG kehilangan uang

Rencana yang sehat pun bocor di counter, bersama distributor, dan setelah order pertama sebuah outlet.

BeatRoute menyiapkan setiap sales dengan agenda, basket, dan penawaran yang tepat sebelum kunjungan toko.

Sales hanya menerima order yang ditawarkan retailer

Jika dibiarkan, retailer memesan lebih sedikit dari yang sanggup dijual outlet. Beri sales rencana sebelum kunjungan: apa yang seharusnya ada di toko dan skema mana yang berlaku.

Order AI Agent dari BeatRoute menyarankan basket untuk tiap outlet, dan sales force automation membawa seluruh rencana kunjungan ke ponsel sales. PT Combiphar go live hanya dalam dua bulan dengan software SFA BeatRoute untuk tim penjualannya. Baca studi kasus PT Combiphar.

Distributor Management System BeatRoute: harga distributor, skema yang memenuhi syarat, dan pengiriman dalam satu tampilan order.

Skema distributor dibayar terlambat untuk mengubah order

Nota kredit yang datang bulan depan tidak bisa mengubah order bulan ini. Taruh skema yang memenuhi syarat di layar order, agar distributor melihat berapa nilai satu karton tambahan, dan selesaikan klaim tepat waktu.

Distributor Management System dari BeatRoute menyatukan pemesanan, skema, stok, dan klaim di satu tempat. Anda melihat penjualan sekunder tanpa menunggu file akhir bulan.

Retailer App BeatRoute: dashboard loyalitas, target, dan reward yang mendekatkan retailer dengan brand.

Outlet baru dihitung sekali, lalu hilang

Membuka outlet baru mudah dihitung dan mudah diberi penghargaan. Menjaganya tetap memesan itulah yang menumbuhkan bisnis, jadi nilai sales dari outlet yang melakukan order kedua dan ketiga.

Ketika sales melewatkan sebuah outlet, TeleOrder AI Agent dapat menelepon retailer dan mengambil ordernya. Retailer App memungkinkan retailer memesan ulang sendiri, sehingga stok yang habis tidak diisi merek lain.

KPI untuk memantau route to market FMCG Anda

Tinjau tiap minggu, per teritori:

Tinjauan mingguan teritori dengan numeric distribution, kunjungan produktif, lini per kunjungan, order berulang, fill rate, dan waktu klaim.
  • Numeric distribution: persentase outlet target yang menyetok produk Anda.
  • Productive call rate: kunjungan yang berakhir dengan order, dari seluruh kunjungan.
  • Lini per kunjungan: berapa banyak item berbeda dalam tiap order.
  • Order berulang dari outlet baru: outlet baru yang memesan lagi untuk kedua dan ketiga kalinya.
  • Fill rate distributor: persentase order retailer yang dipenuhi penuh.
  • Waktu penyelesaian klaim: berapa lama distributor menunggu pembayaran.
  • Cost to serve: biaya tiap tingkat outlet dibandingkan dengan marginnya.

Apa yang dilakukan software route to market terbaik untuk tim FMCG

Software menjalankan rencana yang baik tiap hari, tetapi tidak menyelamatkan yang buruk. Pastikan software itu:

  • Stok distributor, order hari ini, dan kunjungan hari ini tampil sebagai catatan yang cocok dalam satu sistem.
    Menyatukan data distributor dan data penjualan lapangan dalam satu sistem, sehingga stok, order, dan kunjungan cocok.
  • Ponsel sales yang bekerja offline di toko, dengan order tersimpan di perangkat dan tersinkron saat sinyal kembali.
    Bekerja offline, karena banyak outlet punya sinyal lemah.
  • Beat general trade dan modern trade yang terpisah, masing-masing dengan outlet, hari kunjungan, dan tugasnya sendiri.
    Menangani general trade dan modern trade dengan beat, tugas, dan ukuran keberhasilan yang terpisah.
  • Faktur distributor diinput sekali di sistem lapangan dan tersinkron ke ERP, sehingga tidak ada yang menginput dua kali.
    Terhubung ke ERP, sehingga faktur tidak diinput dua kali.

Apakah BeatRoute cocok untuk route to market Anda?

BeatRoute cocok untuk brand barang konsumsi yang menjual lewat distributor dan tim lapangan. Platform ini menyatukan sales force automation, manajemen distributor, dan aplikasi retailer. Jika Anda hanya butuh penagihan untuk satu distributor, alat yang lebih ringan sudah cukup.

BeatRoute dipakai oleh 200+ brand enterprise di 20+ negara, dan kebanyakan tim go live di sales force automation dalam 21 hari.

Dipercaya oleh brand FMCG & CPG terkemuka di seluruh dunia

Ajinomoto
Colgate
Henkel
Kraft Heinz
Lactalis
Monde Nissin
Perfetti
Schreiber Foods
Ajinomoto
Colgate
Henkel
Kraft Heinz
Lactalis
Monde Nissin
Perfetti
Schreiber Foods

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu route to market di FMCG?+

Route to market di FMCG adalah jalur yang dilalui produk brand dari pabrik ke rak outlet, beserta rencana tentang siapa yang menjual, menyimpan stok, dan mengirimkannya di setiap tahap. Cakupannya meliputi saluran, model distribusi, cakupan outlet, tim lapangan, syarat dagang, dan data yang mengikat semuanya.

Apa bedanya go-to-market dan route to market?+

Go-to-market menentukan mengapa konsumen harus membeli: produk, harga, kemasan, dan pesan. Route to market menentukan bagaimana produk sampai ke rak: saluran, distributor, cakupan, dan eksekusi di lapangan. Brand kuat dengan route to market yang lemah punya permintaan yang tidak bisa dipenuhi.

Apa strategi distribusi FMCG (route to market) terbaik untuk brand di Indonesia?+

Tidak ada satu model terbaik untuk semua brand. Kebanyakan brand menjalankan hybrid: langsung untuk jaringan ritel dan akun besar, distributor untuk general trade, serta sales kanvas atau distributor kecil untuk wilayah terpencil. Wilayah padat dengan order besar sanggup membiayai tim sendiri. Outlet yang tersebar dengan order kecil lebih murah dijangkau lewat distributor atau rute sales kanvas.

Bagaimana menyusun route to market dengan data atau sumber daya terbatas?+

Anda jarang butuh sensus outlet lengkap untuk memulai. Ambil outlet yang sudah dilayani distributor terbaik Anda. Bagi menjadi tiga tingkat menurut nilai pembeliannya, lalu putuskan seberapa sering tiap tingkat dikunjungi. Ikuti beberapa beat bersama sales untuk mengumpulkan informasi pasar: warung dan toko mana yang menyetok pesaing, dan mana yang masih punya ruang rak. Lalu pilih satu wilayah dan benahi ekonominya lebih dulu: cost to serve, margin distributor, dan waktu klaim. Uji coba itu menunjukkan di mana penetrasi rendah dan bagian rencana mana yang paling penting di pasar Anda. Tiap siklus pemesanan memberi data yang lebih baik untuk tingkat dan wilayah berikutnya.

Apa itu strategi RTM di FMCG?+

Strategi RTM adalah rencana tertulis tentang bagaimana produk Anda sampai ke outlet. Rencana itu menetapkan model, cakupan, dan syarat untuk tiap saluran dan wilayah, dan biasanya kepala penjualan atau distribusi yang memilikinya. Tinjau setahun sekali, dan lagi setiap kali Anda masuk ke wilayah baru, mengganti distributor, atau meluncurkan kategori baru.

Bagaimana software manajemen distributor memberi visibilitas secondary sales?+

Minta distributor memesan dan menagih lewat sistem manajemen distributor yang Anda sediakan, atau hubungkan dengan software akuntansi yang sudah mereka pakai. Dengan cara mana pun, penjualan di bawah distributor diperbarui saat distributor menagih. Anda melihat stok dan penjualan outlet tepat waktu untuk bertindak, dan klaim yang diperdebatkan di akhir bulan berkurang.