Singkatnya In-store execution, atau retail execution, adalah memastikan produk, harga, display, dan program yang direncanakan brand benar-benar ada di rak setiap toko. Di Indonesia, celah terbesarnya muncul setelah barang keluar dari gudang distributor, di jalur general trade.

Anda tahu berapa karton yang terkirim ke distributor. Anda belum tentu tahu berapa yang sampai ke rak warung. Di general trade, barang berpindah dari distributor ke sub-distributor dan grosir, lalu dibawa motoris atau sales kanvas ke warung dan toko kelontong. Di minimarket berjaringan, isi rak diatur lewat kesepakatan dengan kantor pusat peritel, lalu dijaga SPG atau merchandiser.

Saat eksekusi di toko meleset, kerugiannya tersembunyi di angka lain. Program trade promo terlihat gagal, padahal barangnya tidak pernah sampai. Varian baru dinilai tidak laku, padahal warung belum pernah ditawari.

General trade dan minimarket berjaringan: dua pekerjaan yang berbeda

Satu checklist untuk semua toko jarang cocok. Siapa yang memutuskan isi rak, siapa yang datang ke toko, dan apa yang bisa dibereskan di tempat, semuanya berbeda di tiap jalur. Untuk gambaran lengkap kedua jalur, baca perbedaan general trade dan modern trade.

Warung, toko kelontong, dan grosir

Pemilik toko memutuskan isi raknya sendiri, kunjungan demi kunjungan. Raknya sempit, sehingga produk yang tidak ditawarkan ulang cepat hilang.

Yang datang ke toko biasanya satu dari dua tipe sales. Motoris mengambil pesanan (taking order), lalu distributor mengirim barangnya beberapa hari kemudian. Sales kanvas menjual langsung dari mobil, sehingga barang bisa masuk rak saat itu juga. Motoris kehilangan pesanan jika pengiriman terlambat. Kanvas kehilangan penjualan jika stok di mobilnya tidak lengkap.

Di jalur ini, modal sales adalah hubungan dengan pemilik toko. Hubungan itu dibangun dengan merapikan rak dan mengambil pesanan dalam kunjungan yang sama.

Minimarket berjaringan

Di minimarket berjaringan, isi rak diatur lewat planogram dan kesepakatan dengan kantor pusat peritel. Staf gerai yang mengisi rak. SPG atau merchandiser brand memeriksa apakah kesepakatan itu terlaksana, lalu melaporkan gerai yang meleset.

Celah yang paling sering adalah ruang rak atau display program yang sudah dibayar, tetapi tidak terpasang di sebagian gerai. Modal sales di sini adalah bukti: foto bertanggal dengan lokasi, yang bisa dibawa key account manager ke buyer peritel.

Siapkan dua checklist dengan target yang berbeda. Di general trade, ukur apakah barang ada di rak dan terjual. Di minimarket berjaringan, ukur apakah kesepakatan dijalankan di setiap gerai.

Empat langkah in-store execution, dan titik yang paling sering putus

Setiap kunjungan toko menjalankan siklus yang sama:

  1. Kunjungi toko sesuai rencana rute.
  2. Cek rak terhadap rencana: produk, harga, display, dan program.
  3. Bereskan atau tandai yang keliru.
  4. Tindak lanjuti dari kantor: area manager atau kantor pusat membaca temuan dan bertindak.

Langkah satu dan dua biasanya berjalan. Siklusnya lebih sering putus di langkah tiga dan empat. Foto rak dikirim ke grup WhatsApp, dirangkum ke spreadsheet di akhir bulan, dan programnya sudah selesai saat laporan dibaca.

Di general trade, langkah tiga sering bisa ditutup di tempat. Sales kanvas bisa langsung mengisi rak, dan motoris bisa langsung mencatat pesanan. Temuan yang butuh orang lain perlu satu nama penanggung jawab dan satu tenggat. "Stok kosong" hanyalah catatan. "Sub-distributor kirim paling lambat Kamis, area manager memastikan" adalah tindakan.

Titik cek dari gudang distributor sampai rak

Celah di rak sering bermula jauh sebelum toko. Tabel ini memetakan apa yang dicek di setiap titik jalur distribusi, dan siapa yang membereskannya.

TitikYang sering salahYang dicekSiapa yang membereskan
Gudang distributorStok program atau SKU baru datang terlambat, atau tidak dibagi ke semua area.Stok per SKU dan penjualan sekunder per area, dibanding daftar toko program.Distributor, dipantau area sales manager.
Sub-distributor dan grosirStok tertahan di gudang, atau dijual ke luar area program.Apakah SKU program sudah diteruskan ke toko di rute, dan apakah aturan programnya jelas bagi pemilik.Area sales manager, bersama pemilik sub-distributor.
Warung dan toko kelontongProduk tidak ditawarkan ulang, habis di antara dua kunjungan, atau harga ecernya berbeda.Ketersediaan SKU wajib, poster atau stiker program, dan harga yang dipasang pemilik.Motoris atau sales kanvas, pada kunjungan itu juga.
Minimarket berjaringanPlanogram tidak diikuti, atau display program belum terpasang di sebagian gerai.Foto rak dan display dibanding planogram, serta harga promo di label rak.SPG atau merchandiser melapor; key account manager membereskan dengan peritel.
Kantor pusatTemuan terbuka menumpuk tanpa penanggung jawab.Daftar temuan yang masih terbuka, per area, setiap minggu.Kepala penjualan, yang meninjau bersama trade marketing setiap minggu.

Untuk standar per tipe outlet dan cara menyusun skor toko, baca panduan perfect store dan eksekusi di toko.

Contoh: program tanggal muda dan sachet yang tertahan di sub-distributor

Contoh berikut adalah ilustrasi, bukan kasus pelanggan.

Sebuah brand minuman serbuk menjalankan program tanggal muda di warung: beli beberapa renceng sachet varian baru, dapat bonus satu renceng. Programnya berlaku di awal bulan, saat banyak keluarga baru gajian.

  1. Di awal program, motoris mengunjungi warung di rutenya. Poster program sudah tertempel, tetapi sachet varian baru tidak ada.
  2. Pemilik warung bilang grosir langganannya belum punya barangnya. Lewat aplikasi, motoris melihat distributor sudah mengirim stok program ke sub-distributor area itu minggu lalu.
  3. Motoris mencatat pesanan dari warung itu dan menandai celahnya. Temuan masuk ke area sales manager, lengkap dengan nama sub-distributornya. Warung lain di rute yang sama menghasilkan temuan serupa hari itu.
  4. Esok harinya, area sales manager mendatangi sub-distributor. Ternyata stok ditahan karena pemiliknya belum yakin cara mengklaim bonus programnya.
  5. Area sales manager mengirim aturan klaim secara tertulis hari itu juga. Sub-distributor meneruskan stok ke grosir dan warung di area tersebut.
  6. Pada kunjungan berikutnya, motoris memotret rak dengan sachet program terpajang, lalu menutup temuannya.

Tanpa siklus ini, setiap warung tercatat "stok kosong", dan laporan akhir bulan menyimpulkan programnya tidak diminati. Padahal masalahnya satu sub-distributor yang menunggu kepastian klaim, dan satu temuan dengan satu penanggung jawab sudah cukup untuk membereskannya.

Cara mengukur in-store execution

Ukur kondisi rak, dan ukur juga apakah temuan benar-benar dibereskan. Lima angka ini cukup untuk memulai:

  • Ketersediaan di rak (on-shelf availability): persentase SKU wajib yang ada di rak saat kunjungan.
  • Kepatuhan program dan POSM: persentase toko program yang display, poster, dan harga promonya terpasang, dicek dari foto.
  • Kepatuhan kunjungan: kunjungan terencana yang terjadi pada hari yang direncanakan, dengan check-in berlokasi.
  • Effective call: kunjungan yang menghasilkan pesanan, dibanding semua kunjungan. Angka ini paling bermakna di general trade.
  • Tingkat penyelesaian aksi (action-close rate): persentase temuan yang dibereskan sebelum kunjungan berikutnya.

Di minimarket berjaringan, tambahkan dua angka lagi: kepatuhan planogram dan share of shelf, dihitung dari foto rak.

Baca kelimanya bersama. Kepatuhan kunjungan tinggi dengan ketersediaan yang datar berarti sales rajin datang, tetapi rak tidak berubah. Effective call yang turun di satu area bisa berarti stok di distributor atau sub-distributor sedang bermasalah. Tingkat penyelesaian aksi yang turun menunjukkan siklus mulai putus, sebelum angka ketersediaan ikut jatuh.

Kapan grup WhatsApp dan spreadsheet tidak cukup lagi

Foto di grup WhatsApp dan rekap spreadsheet masih cukup selama satu manajer bisa melihat setiap foto dan menelepon untuk setiap celah. Cara itu berhenti bekerja saat temuan harus sampai ke distributor, sub-distributor, atau key account manager. Cara itu juga gagal saat kantor pusat perlu status program yang masih berjalan.

Software in-store execution menaruh daftar tugas per toko di ponsel sales, lalu merekam audit dan fotonya. Setiap temuan dikirim ke orang yang harus membereskannya.

BeatRoute menjalankan kunjungan, audit, pesanan, dan tindak lanjut dalam satu aplikasi, lewat software audit ritel dan sales force automation. Sistem manajemen distributor menunjukkan stok distributor kepada sales saat kunjungan. VM Audit AI Agent menilai foto rak, dan Scheduling AI Agent memilih toko yang perlu dikunjungi setiap sales. Kunjungan produktif naik dari 45% menjadi 78% dengan Scheduling AI Agent. BeatRoute cocok untuk brand yang sales, merchandiser, atau SPG-nya memeriksa toko yang bukan milik brand; peritel yang mengaudit tokonya sendiri untuk keamanan dan operasional lebih cocok memakai aplikasi operasional toko.

Layar Retail Audit BeatRoute: foto rak toko yang dihitung untuk membandingkan jumlah produk sendiri dan pesaing

Di Indonesia, Perfetti Van Melle Indonesia menaikkan cakupan outlet 3x lipat dengan route optimization dan SFA dari BeatRoute. Baca studi kasus Perfetti Van Melle Indonesia. PT Combiphar go live di BeatRoute SFA hanya dalam dua bulan. Baca studi kasus PT Combiphar.

BeatRoute adalah software berlangganan, dengan harga per pengguna dan modul pada kontrak tahunan, tanpa uji coba gratis. Untuk menguji software, jalankan pilot di satu area yang punya warung sekaligus gerai minimarket berjaringan. Catat tingkat penyelesaian aksi sebelum dan sesudah pilot. Tanyakan dua hal kepada setiap vendor: apakah sales bisa melihat stok distributor saat kunjungan, dan siapa yang menerima temuan. Untuk fitur yang lebih lengkap, baca panduan software retail execution, atau jadwalkan demo untuk melihat siklusnya berjalan pada daftar toko Anda.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa bedanya in-store execution dan perfect store?

Perfect store adalah standarnya: seperti apa toko yang ideal untuk tiap tipe outlet. In-store execution adalah kerja di setiap kunjungan untuk mencapai standar itu, termasuk menindaklanjuti celah yang ditemukan sampai beres. Skor perfect store menunjukkan seberapa dekat sebuah toko dengan standarnya. Siklus in-store execution menentukan seberapa cepat skor itu naik setelah celahnya ditemukan.

Siapa yang memegang in-store execution di perusahaan?

Biasanya tanggung jawabnya dibagi. Trade marketing merencanakan dan mendanai program, sedangkan tim penjualan memastikan program itu sampai ke rak. Agar tidak saling menunggu, sepakati siapa pemilik tiap jenis temuan: stok ke tim penjualan dan distributor, materi display ke trade marketing, kesepakatan rak minimarket ke key account manager.

Apa bedanya in-store execution dan retail audit?

Retail audit adalah pemeriksaan dan pencatatan kondisi toko: stok, harga, display, dan foto rak. In-store execution mencakup audit itu, ditambah membereskan celahnya, baik di tempat maupun lewat orang lain. Audit yang hanya mencatat akan menemukan rak kosong yang sama pada kunjungan berikutnya. Karena itu, nilai sebuah audit dari jumlah temuannya yang selesai.