CRM (customer relationship management) menyimpan data pelanggan dan pipeline penjualan. SFA (sales force automation) menjalankan pekerjaan salesman di lapangan: beat, kunjungan ke outlet, dan order di depan etalase toko. CRM berpusat pada pelanggan, SFA berpusat pada hari kerja salesman. Brand consumer goods yang menjual ke jaringan ritel besar sekaligus mengirim salesman ke warung dan toko kelontong biasanya butuh keduanya, dengan satu daftar outlet yang sama.

Cara tercepat untuk memilih: lihat di mana order Anda ditulis. Kalau order lahir dari rapat dan telepon, CRM menanggung sebagian besar bebannya. Kalau order ditulis di warung dan toko, Anda butuh SFA.

Apa kepanjangan SFA, dan apa itu CRM?

SFA adalah singkatan dari sales force automation, atau otomatisasi tenaga penjualan. Software SFA mengurus pekerjaan rutin dalam hari kerja salesman, supaya ia punya lebih banyak waktu untuk menjual. Bagi brand consumer goods, artinya merencanakan rute harian, check-in di setiap outlet, mengambil order, menghitung stok, memotret rak, lalu mengirim semuanya ke atasan. Lihat software sales force automation untuk gambaran dalam praktik.

CRM adalah singkatan dari customer relationship management. Ini adalah sistem pencatatan utama untuk pelanggan Anda. CRM menyimpan kontak dan riwayat akun, lalu menjalankan proses penjualan di sekitarnya: melacak lead dan peluang yang masih terbuka, menyimpan catatan telepon dan email, dan menyusun forecast penjualan.

Jadi, apakah sales force automation bagian dari CRM? Kadang-kadang. Banyak produk CRM punya modul yang mereka sebut SFA. Modul itu mencatat telepon, mengirim tindak lanjut, dan menggeser deal untuk penjual yang bekerja dari meja. SFA lapangan adalah sistem terpisah, dibuat untuk salesman yang di jalan, sering dengan sinyal lemah, mengunjungi outlet yang memesan ulang setiap minggu.

Perbedaan SFA dan CRM sekilas

PertanyaanCRMSFA (penjualan lapangan)
Tugas utamaMenyimpan data pelanggan dan mengelola pipeline penjualanMerencanakan, menjalankan, dan mencatat pekerjaan harian salesman di lapangan
Pengguna utamaKey account manager, inside sales, dan tim layanan pelangganSalesman lapangan, merchandiser, dan area sales manager
Fitur intiManajemen kontak dan lead, tahap deal, forecast, catatan telepon dan emailPerencanaan beat dan kunjungan, check-in, pengambilan order, hitung stok, foto rak, skema promo untuk toko, dan target
Unit kerjaSatu akun atau satu dealSatu kunjungan atau satu order
Yang diukurNilai pipeline, win rate, siklus deal, dan retensiOutlet yang dikunjungi, kunjungan produktif, jumlah item per order, dan penjualan terhadap target
Ritme penjualanBerminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk tiap dealOrder ulang dari warung dan toko yang sama setiap satu atau dua minggu

Seperti apa keduanya dalam sehari kerja

Ambil contoh key account manager yang menjual ke jaringan supermarket. CRM menampilkan para buyer jaringan itu, order sebelumnya, deal terbuka untuk listing produk baru, dan kapan trading terms diperbarui. Setelah menelepon buyer, ia memindahkan deal ke tahap berikutnya dan menjadwalkan tindak lanjut hari Kamis. Akunnya hanya segelintir, tetapi masing-masing bernilai besar.

Sekarang ambil salesman yang memegang warung dan toko kelontong untuk brand makanan ringan. Aplikasi menampilkan beat hari itu, yaitu daftar tetap outlet yang ia datangi pada hari tersebut dalam seminggu, berurutan dalam satu rute. Di setiap toko, salesman:

  • check-in dan menghitung isi rak;
  • mengambil order di depan etalase dari daftar saran;
  • memotret display untuk audit ritel.

Order langsung masuk ke distributor. Menjelang makan siang, area manager sudah bisa melihat outlet mana yang terlewat dan mana yang memesan lebih sedikit dari biasanya.

Inilah sebabnya layar yang dirancang untuk orang pertama memperlambat orang kedua. Salesman yang berdiri di depan etalase yang ramai butuh outlet berikutnya dan formulir order, bukan tahap deal.

Mana yang dibutuhkan brand consumer goods: SFA, CRM, atau keduanya?

CRM saja cukup jika sebagian besar volume Anda lewat segelintir pembeli besar, seperti jaringan ritel nasional, grosir, atau institusi, dan tidak ada orang dari tim Anda yang mengunjungi toko.

SFA lapangan saja cocok untuk brand yang menjual terutama lewat distributor ke banyak outlet kecil. Padukan dengan manajemen distributor, kalau tidak salesman akan menulis order yang tidak bisa dicocokkan dengan stok distributor.

Keduanya dibutuhkan sebagian besar brand menengah dan besar. Key account di modern trade, seperti jaringan supermarket dan minimarket, berjalan lewat negosiasi panjang, yang cocok untuk CRM. General trade, yaitu toko-toko kecil independen, berjalan lewat beat, yang cocok untuk SFA.

Sebagian brand berada di tengah. Di cat dan bahan bangunan, salesman mengunjungi toko bangunan lewat rute, tetapi juga membawa lead kontraktor yang butuh berminggu-minggu untuk closing. Biarkan mereka mencatat lead di aplikasi yang sama dengan yang dipakai untuk order toko.

Dua tanda Anda memakai alat yang salah:

  • Salesman mengisi CRM malam hari dari ingatan.
  • Atasan meminta foto lewat aplikasi chat untuk membuktikan kunjungan benar-benar terjadi.

CRM kami sudah punya modul SFA. Apakah itu cukup?

Bisa cukup, kalau penjual Anda menghabiskan hari dengan telepon dan rapat. Untuk salesman yang mengunjungi banyak toko sehari, ujilah dengan pekerjaan yang benar-benar mereka lakukan:

  • Bisakah salesman melihat beat hari ini dan outlet berikutnya dengan satu ketukan?
  • Bisakah mereka mengambil order tanpa sinyal, dengan harga distributor dan skema promo yang berlaku saat ini?
  • Apakah aplikasi menyarankan order dari apa yang dibeli outlet itu terakhir kali?
  • Bisakah mereka mencatat stok rak dan foto display dalam kunjungan yang sama?
  • Apakah order sampai ke distributor tanpa ada yang mengetik ulang?

Jika kebanyakan jawabannya tidak, pertahankan CRM untuk key account dan tambahkan SFA lapangan untuk beat. Jika kebanyakan jawabannya ya dan salesman Anda sudah memakainya setiap hari, Anda mungkin tidak butuh sistem kedua.

Bagaimana SFA dan CRM bekerja bersama

Ketika brand menjalankan keduanya, penghubung yang paling penting adalah daftar pelanggan. Tentukan sistem mana yang memiliki tiap data, dan biarkan sistem lain membacanya.

  • Siapa memiliki pelanggan yang mana: key account biasanya ada di CRM. Ekor panjang warung dan toko kecil ada di SFA, karena salesman menambah toko baru di lapangan setiap minggu. Kedua sistem memakai kode pelanggan yang sama agar laporan cocok.
  • Apa yang dikirim SFA ke CRM: catatan kunjungan, order, stok di rak, dan apa yang dilakukan brand pesaing di toko-toko sebuah jaringan, supaya key account manager tahu kondisi toko yang sebenarnya.
  • Apa yang dikirim CRM ke SFA: listing yang disepakati dan kalender promosi tiap jaringan, supaya merchandiser memeriksa hal yang tepat.

Dua kesalahan mudah terjadi:

  • Membiarkan kedua sistem membuat outlet. Hasilnya data ganda dan dua versi kebenaran.
  • Meminta salesman mencatat kunjungan yang sama di dua aplikasi. Mereka akan berhenti memakai salah satunya, biasanya yang lebih jarang dicek atasan.

Minta salesman mencatat setiap kunjungan sekali saja, di SFA, lalu teruskan ke CRM lewat integrasi siap pakai.

Di mana BeatRoute cocok

Layar Track Goals di aplikasi SFA BeatRoute pada ponsel, menampilkan tim, target, insentif, dan kinerja seorang manajer.

BeatRoute adalah SFA lapangan untuk brand consumer goods yang menjual lewat distributor dan retailer. Platform ini menyatukan perencanaan beat, pengambilan order, audit ritel, manajemen distributor, dan AI agent dalam satu tempat. Order AI Agent, misalnya, menyarankan apa yang sebaiknya dipesan tiap outlet berdasarkan pembelian sebelumnya. BeatRoute menyimpan data outlet dan lead lapangan, serta terhubung ke CRM yang sudah Anda pakai untuk key account. Lebih dari 200 brand enterprise di 20+ negara memakainya, dan sebagian besar tim go live dalam 21 hari.

BeatRoute cocok untuk brand yang salesmannya mengunjungi ratusan atau ribuan outlet. Jika Anda menjual ke sedikit akun besar dari kantor, CRM akan lebih melayani Anda dan Anda tidak butuh kami.

Hasil yang dicapai tim lapangan di platform BeatRoute:

Jika ini terdengar seperti tim Anda, minta demo dan ajak kami merencanakan pilot di beat Anda sendiri.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa kepanjangan SFA dan DMS?

SFA adalah sales force automation, aplikasi yang dipakai salesman untuk merencanakan kunjungan dan mengambil order. DMS adalah distributor management system, software yang dipakai distributor untuk stok, penagihan, dan klaim. Jika dijalankan bersama, order yang diambil salesman di SFA masuk ke DMS distributor tanpa diketik ulang.

Bagaimana cara menguji SFA lapangan sebelum membeli?

Jalankan pilot di beberapa beat yang dilayani satu distributor. Catat outlet yang dikunjungi per hari, kunjungan produktif, dan jumlah item per order sebelum pilot, lalu bandingkan setelah jumlah minggu yang sama. Panduan kami tentang alat sales force automation membahasnya langkah demi langkah.

Apakah SFA bisa berjalan offline?

Seharusnya bisa. BeatRoute memungkinkan salesman mencatat kunjungan, mengambil order, dan menjalankan audit tanpa jaringan, dan semuanya sinkron saat sinyal kembali. Minta vendor mana pun memperlihatkannya di ponsel dalam mode pesawat.

Berapa biaya software SFA?

BeatRoute adalah software berlangganan, dengan harga per pengguna dan modul pada kontrak tahunan, tanpa uji coba gratis. Biayanya bergantung pada jumlah salesman yang memakainya dan modul yang Anda ambil, misalnya SFA saja atau SFA bersama manajemen distributor.